Dimanapun kaki berpijak, disanalah kita meniti jalan perubahan. Jalan yang akan menggoreskan sejarah hidup, minimal untuk diri kita sendiri.
Disinilah aku, bersama ratusan bahkan ribuan orang yang tiba di mesir tahun ini. Berangkat walau harus dari tetes keringat perjuangan dan aliran air mata cinta, membawa secercah harapan bangsa dan tanah air untuk kebaikan ummat di masa depan.
Bagiku ini bukan soal tempat atau lokasi, mau ribuan kilometer jauh di mesir sana, ataupun pulang pergi rumah-kampus, ini soal kesadaran. Seorang yang berkeliling dunia dalam keadaan tak sadar, sakit misalnya dalam pengobatannya, tetap saja takkan sadar keindahan sekitarnya, apalagi membuat perubahan bagi diri dan orang lain. Lain halnya dengan orang yang sadar, dalam bising kemacetan di ibukota saja, bisa timbul banyak ide dan gagasan perubahan.
Maka yang dituntut bagi kami saat ini, ialah kesadaran. Tok, kesadaran. Bahwa kami tidak main-main kesini, bukan semudah berangkat sekolah kemudian balik lagi. Ada mereka yang berharap pada diri yang lemah ini. Pada kelemahan kita, mereka tatap sinar harapan kebaikan, maka menurutku kawan, kita mulai semua dengan kesadaran penuh, hingga jelas jalan yang harus kita tapaki, sejelas mentari di siang hari.
Bagi pembaca tulisan ini, izinkan aku beri peringatan bagi diriku sendiri, bersyukur kalau bisa jadi setetes cinta yang berguna bagi bunga harapan kalian di masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar