Rabu, 25 November 2015

Hikmah mencuci piring

Hikmah adalah barang hilang dari seorang mukmin. Barangsiapa yang menemukannya, maka ia paling berhak atasnya.

Mencuci piring mungkin saja hal biasa, terutama bagi orang rantauan yang dituntut untuk hidup mandiri.

Ada beberapa cara dan trik agar mencuci piring dapat dilakukan secara efektif. Salah satunya dengan membersihkan barang yg lebih besar dulu dengan air, kemudian mencucinya dengan sabun. Setelah semua barang telah disabuni, bilas cucian dari yang kecil terlebih dahulu.

Biasa memang, tapi kalau kita amati lebih jauh, ada hikmah yang dapat kita ambil.

Dalam hidup, waktu kita terbatas. Bagi sebagian mahasiswa yang sibuk dengan kuliah dan organisasinya, waktu bahkan tidak mencukupi mereka dalam melakukan semua kewajiban yang ada. Maka timbullah pemikiran tentang waktu agar lebih efektif.

Seorang dosen menghadirkan sebuah percobaan dalam kuliahnya. Ia menaruh sebuah ember yang diletakkan di atas meja dan beberapa alat di kantong. Pertama ia masukan beberapa bongkah batu kedalamnya, kemudian bertanya, "Apakah ember sudah penuh?", serentak murid-muridnya mengiyakan. Kemudian ia masukan, sekantong kerikil ke dalam ember, lantas ia bertanya lagi, beberapa mulai ragu, sebagian menjawab iya, yang lain diam. Maka dilanjutkan, sang dosen kali ini memasukan satu sak pasir ke dalam ember, lalu ia bertanya lagi, sebagian besar kini berpendapat bahwa ember belum penuh, karena mungkin saja diisi dengan hal lain. Terakhir ia masukan air kedalam ember, hingga ember penuh sempurna tanpa ada ruang tersisa.

Kemudian aang dosen bertanya,"Menurut kalian apa pelajaran yang bisa kita ambil dari percobaan yang tadi kita lakukan?". Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "

Selasa, 24 November 2015

Masa itu

Aku rindu kala itu
Saat sejuk dan dingin udara pagi
Dan mentari belum penuh meninggi
Sebagian orang masih terlelap dalam mimpi
Bergelut dengan kesibukan hari
Sarapan kadang tak pasti
Namun,
Seungging senyuman setia menghiasi wajah kecil kami

Aku rindu pada massa
Diwaktu sebuah motor tua
Setiap pagi mengangkut kami berlima
Berjumpa dengan guru tercinta
Bertemu sahabat menghapus duka
Belajar penuh impian dan cita membara

Sekarang,
Bukan lagi saat ratapan mengenang
Waktu dulu penuh gemilang

Masa depan,
Adalah sebuah kepastian
Apa yang kami putuskan juga lakukan
Akan jadi bunga harapan
Merekah pada waktu yang ditentukan.

#1


Teknik menulis teks atau karangan berbahasa arab

Sobat, bicara tentang tulis menulis terutama tentang teks arab sebenarnya tak banyak perbedaan. Apa yang kita pahami dulu ketika sd tidak jauh dengan apa yang akan kita dapati di dunia perkuliahan.

Terutama teks arab atau terkadang disebut insya', ada beberapa poin penting yang harus dipenuhi untuk membuat tulisan yang sesuai standar apa yang dipahami orang arab.

Bersumber dari ustad di kelas bahasa, sebuah insya' atau karangan berbahasa arab, pertama harus memiliki tema khusus. Contoh dari kata ilmu → pencari ilmu → keistimewaan pencari ilmu.

Kedua, tentukan fikroh roisah (pokok pikiran) yang akan kita tulis, setiap fikroh roisah akan berkembang jadi paragraf. Contoh dari tema keitimewaan pencari ilmu, bisa kita kembangkan fikroh roisah, penghormatan penduduk bumi pada pencari ilmu, ganjaran Allah bagi pencari ilmu di dunia dan akhirat, dsb.

Ketiga, mulailah menulis sesuai apa yang sudah kita tentukan sebelumnya. Kembangkan setiap fikroh roisah dengan  uslub bahasa dan pembendaharaan bahasa yang kita miliki.

Tips tambahan, setiap paragraf harus terdiri dari jumlah fatihah (kalimat pembuka), jumlah syarihah (kalimat penjelas), dan jumlah khatimah (kalimat penutup). Usahakan untuk tidak mengulangi kata yang sering muncul, mengganti dengan dhomir bisa jadi pilihan. Perhatikan juga dalam perubahan kata (shorf) ketika ditambahkan dhomir, juga pemberian tanda baca, (,) koma menandai susunan kalimat sudah sempurna namun pembicaraan belum berakhir, (.) titik akhir dari pembicaraan, (-) tanda pisah untuk istilah atau doa, tidak dii'rob,dll. Penting juga dalam pengembangan tulisam untuk tidak takut pada kesalahan nahwu dan shorf karena bisa menghambat keleluasaan kita dalam berpikir.

Terakhir, moga apa yang diatas bisa bermanfaat bagi siapa saja yang butuh sedikit referensi tentang penulisan teks atau karangan bahasa arab. Wallahu a'lam bis showab.

Sakit

Pergantian musim baru-baru ini, cukup memberi pengaruh pada beberapa kawan disini. Dari hawa panas ke angin musim dingin. Ya, memang belum berganti penuh, masih masa peralihan. Sama seperti kala pergantian musim kemarau ke musim penghujan.

Dalam hal itu, ada sebuah hikmah penting yang bisa kuambil, terutama dari orang-orang yang sakit.

Ketika satu sama lain mempunyai ikatan lebih dari sekedar teman, seakan mereka adalah satu keluarga, tentunya diantara mereka akan timbul sama rasa. Dalam senang, sedih, sehat, maupun sakit seakan mereka semua merasakannya.

Bagi orang yang seperti itu, menurutku tentu bahagia sekali memiliki mereka yang peduli pada dirinya disamping penyakit yang ia terima. Tentu bukan merupakan hal yang cuma-cuma didapat, kuyakin ada kepedulian sesama mereka sebelumnya.

Maka jelas kita lihat, sisi kepedulian kita pada orang lain. Jangan sampai, kita menjadi manusia yang tidak lebih baik dari hewan. Cobalah lihat, betapa seekor induk binatang buas saja mampu memberikan kasih sayang pada seekor anak binatang buruannya.

Terakhir, teringat pesan baginda Nabi Saw., bahwa Allah menjanjikan pertolongan kala kita menolong orang lain, juga kemudahan dunia dan akhirat kala kita memudahkan mereka yang kesusahan. 

Senin, 23 November 2015

Sajak harapan

Di dalam kehidupan, tak asing rasanya kita jumpai cerita tentang sebuah harapan. Beberapa diantaranya kadang terlihat samar-samar hingga tak sadar akan kisah besar dibaliknya.

Seorang Motivator pernah berbicara mengenai ini dalam pelatihannya, ia memulai dengan menganalogikan,

" Setiap fajar pagi menyingsing, ada seekor singa yang harus berlari lebih cepat daripada mangsa, kalau tidak maka tak ada makanan baginya. Juga, setiap fajar menyingsing, ada seekor rusa yang harus berlari lebih cepat dari hewan buas di sekitarnya, atau ia akan mati dimakan olehnya." Kurang lebih seperti itu.

Setiap pergantian jam, hari, dan waktu dalam hidup kita, jangan pernah sekali - kali hilangkan harapan, karena dengannya kita hidup.

Kala mentari pagi bersinar
Lihatlah pada wajah-wajah berbinar
Menatap hari tanpa gusar
Bertekad raih harapan besar

Kala langit cerah membiru
Hilanglah kerut di wajah layu
Pergi menjauh tangisan sendu
Memandang hidup tanpa jemu

Pada setiap awal hari
Tautlah cita dan asa tertinggi
Agar kelak suatu hari
Bukan sesal kau temui

Sampaikan cinta pada semua
Tebarkan sayang pada sesama
Jangan pilih kasih dalam berbagi
Kita tak tahu mana teman sejati

Welcome egypt!

Dimanapun kaki berpijak, disanalah kita meniti jalan perubahan. Jalan yang akan menggoreskan sejarah hidup, minimal untuk diri kita sendiri.

Disinilah aku, bersama ratusan bahkan ribuan orang yang tiba di mesir tahun ini. Berangkat walau harus dari tetes keringat perjuangan dan aliran air mata cinta, membawa secercah harapan bangsa dan tanah air untuk kebaikan ummat di masa depan.

Bagiku ini bukan soal tempat atau lokasi, mau ribuan kilometer jauh di mesir sana, ataupun pulang pergi rumah-kampus, ini soal kesadaran. Seorang yang berkeliling dunia dalam keadaan tak sadar, sakit misalnya dalam pengobatannya, tetap saja takkan sadar keindahan sekitarnya, apalagi membuat perubahan bagi diri dan orang lain. Lain halnya dengan orang yang sadar, dalam bising kemacetan di ibukota saja, bisa timbul banyak ide dan gagasan perubahan.

Maka yang dituntut bagi kami saat ini, ialah kesadaran. Tok, kesadaran. Bahwa kami tidak main-main kesini, bukan semudah berangkat sekolah kemudian balik lagi. Ada mereka yang berharap pada diri yang lemah ini. Pada kelemahan kita, mereka tatap sinar harapan kebaikan, maka menurutku kawan, kita mulai semua dengan kesadaran penuh, hingga jelas jalan yang harus kita tapaki, sejelas mentari di siang hari.

Bagi pembaca tulisan ini, izinkan aku beri peringatan bagi diriku sendiri, bersyukur kalau bisa jadi setetes cinta yang berguna bagi bunga harapan kalian di masa depan.

Anak kecil

Salah satu anugerah terindah dari Tuhan untuk kita manusia adalah cinta. Cinta yang Dia titipkan pada fitrah manusia, sehingga tak ada kebohongan hati dan jiwa kita ketika menemuinya.

Salah satunya cinta pada anak kecil. Eitt.. tunggu dulu, ini bukan tentang pedofilia. Terkadang susah untuk menghadapi kenyataan zaman ini, manusia seakan berusaha keluar dari fitrahnya. Maka aku tegaskan, cinta pada anak kecil ialah fitrah manusia, cinta yang menyunggingkan senyuman pada bibir kita setiap kali melihat mereka. Menumbuhkan empati pada hati, untuk memberi kasih sayang pada mereka.

Bahkan, untuk kaum muslimin, baginda Rasul Saw., adalah contoh terbaik dalam cintanya pada anak kecil. Lihatlah betapa beliau memanjangkan sujud dalam sholatnya ketika Hasan bin Ali ra., menaiki punggungnya walau saat itu posisinya sebagai imam. Lihatlah betapa tangisan bayi membuat ibadah sholat harus dipercepat.

Ya, sayangi anak kecil walau bukan anak kandung kita, walau juga bukan sanak kerabat kita. Sayangi karena Allah mencintainya, sayangi karena Baginda Nabi Saw., memberi contoh padanya. Sayangi karena pada merekalah bunga harapan masa depan bangsa dan negara tertanam.